• Beranda
  • Media
  • Blog Wisata

Jenis Angklung di Tanah Sunda dan Komunitas Musik Bambu di Bandung

Diposting Oleh : admin
Senin, 23 Mei 2022

Dalam rangka pelestariannya, pada Sabtu 21 Mei 2022 Pemerintah Kota Bandung resmi mendeklarasikan diri sebagai “Kota Angklung”. Ada beberapa indikator yang menjadikan Kota Bandung layak menjadi kota angklung. Diantaranya ekosistem angklung di Kota Bandung sudah tersedia, meliputi seniman, komunitas, unsur pendidikan, literatur, serta aktivitas dan industri pariwisatanya.

Selain seniman dan komunitas yang menjamur, di Kota Bandung terdapat perguruan tinggi dengan program studi angklung dan musik bambu, yakni di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Bahkan Angklung resmi diakui UNESCO pada 2010. Angklung masuk dalam warisan budaya takbenda atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang angklung, tidak ada salahnya kita mengenal berbagai jenis Angklung di Tanah Sunda d serta berbagai komunitas musik bambu yang ada di Bandung. 

 

  • Angklung Padaeng 

Jenis angklung ini diperkenalkan pertama kali oleh Daeng Soetigna tahun 1938. Daeng Soetigna melakukan modifikasi pada struktur batang, sehingga mampu menghasilkan nada diatonik. Dengan demikian, angklung ini dapat dimainkan bersama alat musik populer dan modern. Sosok lain yang giat mengenalkan angklung ke masyarakat adalah Udjo Ngalegena atau Saung Angklung Udjo yang berada di Kota Bandung. 

  • Angklung Kanekes

Angklung Kanekes berasal dari Baduy di Banten. Angklung ini biasa dimainkan saat terang bulan atau tidak hujan. ditampilkan ketika upacara menanam padi di ladang bukan hanya hiburan semata. Pembuatan angklung ini hanya dilakukan oleh orang Kajeroan atau suku Baduy Dalam.

  • Angklung Gubrag

Berasal dari Kampung Cipining, Bogor angklung jeni ini digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan menempatkan ke lumbung. Kesenian ini sudah diwariskan oleh para leluhur secara turun temurun sebagai hasil dari adat etnis Sunda.

  • Angklung Badeng

Angklung ini temukan di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Peran dalam angklung badeng awalnya berfungsi sebagai sarana upacara padi, namun berkembang menjadi alat musik untuk hiburan dakwah Islam. Selain itu angklung badeng menyajikan lagu-lagu dan atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

  • Angklung Buncis

Angklung ini menjadi ciri khas Jawa Barat seperti Baduy, Cigugur Kuningan, Baros Arjasari. Awalnya angklung buncis ini digunakan sebagai salah satu pertunjukan petani untuk persembahan upacara menghormati padi saat panen. Namun, pada tahun 1940-an, fungsi ritual angklung buncis dalam penghormatan padi mulai ditinggalkan, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan

  • Angklung Toel

Pada tahun sekitar 2008, Angklung toel diciptakan oleh Kang Yayan Udjo. Angklung ini terbentuk rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer posisi terbalik serta diberi karet yang disusun dua baris. Cara memainkannya pun cukup mudah dan sederhana seperti bermain piano.

 

Komuntias Musik Bambu di Bandung

1. Komunitas Galengan Sora Awi menjadi salah satu pengrajin alat musik dari bambu yang berada di Kampung Tanggulan, Bandung.  Produk alat musik bambu mereka sangat beragam baik tradisional maupun modern diantaranya gong, keprak, karinding, toleat, kokol buncis, gitar, biola, arumba, seruling dan rebab.  Bahkan gongti, alat musik khas suku Aborigin, Australia, juga dibuat dalam versi bambunya. Tidak hanya alat musik, mereka juga membuat berbagai aksesoris tas, miniature dengan bahan dasar bambu.

2. Komunitas Indonesian Bamboo Community (IBC) memiliki anggota sebanyak 30 orang dengan latar belakang pemain musik dan pengrajin yang berdiri pada 30 April 2011 komunitas ini dapat menggantikan kayu pada alat musik dengan bambu seperti gitar, bas, biola, kecapi, saksofon, dan drum. IBC pun bekerjasama dengan salah satu universitas untuk mengetahui seberapa berkualitas dan unggul buatan mereka itu. Diperlukan waktu tiga tahun untuk dapat menemukan pakem biola yang tepat dan menjadi ciri khas buatan IBC.

3. Indonesian Bamboo Society (IBS) didirikan pada tahun 1993 dan telah memiliki 80 anggota resmi. Di Indonesian Bamboo Society (IBS) terdapat Museum Bambu yang beralamat di Jalan Raya Cibeureum No.16 Bandung. Ketika memasuki Museum Bambu lebih dalam, akan kita temui ruangan demi ruangan berisi berbagai pernik dan kreasi kerajinan bambu. Ada patung, sepeda, perkakas rumah tangga, alat musik seperti gitar dan biola, juga ada lukisan. Semuanya terbuat dari bambu. Semua karya seni ini adalah buah tangan pihak pengelola dan anggota yang tergabung dalam komunitas Indonesian Bamboo Society (IBS). 


4. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung membuka Program Studi Angklung dan Musik Bambu (D4). Prodi ini mengkhususkan diri pada penguasaan angklung dan musik bambu nusantara dan berperan sebagai pusat konservasi, kreativitas kekaryaan dan keilmuan seni Angklung dan Musik Bambu bermanfaat bagi kehidupan berbudaya. Program Studi Angklung dan Musik Bambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia pada tingkat diploma dibidang Angklung dan musik bambu serta mungkin satu satunya di Indonesia bahkan dunia.