• Beranda
  • Media
  • Berita

FGD dan Workshop Mapag Penganten "Lengser Ambu"

04-04-2019 00:00:00

Hari ini (4/4/2019) di Teras Sunda Cibiru diselenggarakan Focus Group Discussion dan Workshop Mapag Panganten “Lengser Ambu”. Pertemuan ini memiliki tujuan untuk bersilahturahmi seluruh Komunitas Lengser Ambu, dan juga praktisi pernikahan lainnya,  serta membuat standarisasi atau pakem Lengser Ambu.

Lengser sendiri dahulunya merupakan orang kepercayaan raja, yang jika diibaratkan dalam pewayangan Lengser merupakan seorang Bisma. Pada tahun 1968 tokoh Lengser ini mulai dimasukkan ke dalam upacara khusus mapag pengantin pria.

Tokoh Lengser ini dalam Mapag Panganten biasanya ditemani oleh Ambu. Ambu disini berfungsi untuk mendampingi Lengser sebagai istri, jadi dapat menggambarkan bahwa sepasang suami istri akan sampai seumur hidup. Dalam Sunda masa lalu sendiri Ambu merupakan penggambaran wanita tertinggi.

Saat ini ada banyak kritikan mengenai Lengser Ambusendiri, seperti bahwa banyak dari Ambu yang terlalu berlebihan tingkah lakunya dalam penampilan, dandanannya melebihi pengantin, sampai pada pertanyaan mengapa banyak Ambu yang diperankan oleh laki-laki (shemale). Namun, saat ini dari Komunitas Lengser Ambu sendiri mengusahakan agar dari segi estetika dan etika dari ambu akan semakin baik dan menggambarkan orang yang di tuakan

Untuk fenomena Ambu yang diperankan laki-laki dan juga tingkah jenaka Ambu merupakan bentuk kreatifitas dari Lengser Ambu sendiri, dan ini memberikan keberagaman bagi seni Lengser Ambu.

Selanjutnya Ketua KLAJB menambahkan, “Ambu Shemale sudah ada perubahan yang signifikan dan luar biasa. Walaupun aslinya lelaki Insyaallah tidak terlihat. Nanti untuk pemilihan Ambu (diperankan perempuan atau yang lelaki) akan dikembalikan lagi ke vendor. Namun, dengan aturan tata cara etika, etitude, semua harus diubah tata caranya.”

Selain Ambu, perubahan pada Lengser juga dilakukan dari segi busana menjadi lebih elegan, seperti penggunaan beskap sebagai pakaian Lengser. Dan KLAJB terus mengusahakan perubahan-perubahan akan terus dilakukan untuk dapat menampilkan Lengser Ambu yang lebih baik lagi

Diakhir acara Dr. Lili Suparli, M.Sn. menambahkan bahwa kebutuhan bentuk Lengser Ambu juga disesuaikan dengan permintaan. Jenis dari Ambu sendiri saat ini merupakan bentuk dari kreatifitas para pelakunya. Beliau menyarankan agar penyusunan pakem atau standarisasi diberikan 2 pilihan bisa dengan standar pertama priyayi atau kedua modern, dimana standarisasi ini tidak mengekang kreatifitas dari Lengser Ambu sendiri.  Dan yang terpenting dalam prakteknya, Lengser Ambu harus tetap mengutamakan estetika dan etikanya.

FGD dan Workshop ini akan terus diselenggarakan dengan tema yang berbeda. FGD dan Workshop ini diharapkan dapat melahirkan dokumen tertulis yang berisi setiap ritual, filosofi, dan makna-makna dari ritual Mapag Panganten.